DAKWAH UNTUK MENCAPAI RIDHA ILAHI

Wednesday, August 17, 2011

Hikmah Puasanya Anak-Anak


Oleh Septiani DW

Hari mulai senja, perlahan alunan tilawah dari menara-menara masjid riuh rendah berirama. Mengiringi sang mentari tenggelam di ufuk barat, menyambut waktu yang tepat untuk menabuh sang bedug dan mengumandangkan adzan maghrib.

Puluhan orang hilir mudik di jalanan, ngabuburit katanya. Ada yang sekedar berjalan-jalan menunggu waktu adzan atau bermaksud membeli makanan dan minuman untuk berbuka puasa.

Sore itu Tya bersama adik bungsunya yang baru saja duduk di kelas 4 SD termasuk diantara mereka yang ngabuburit(istilah kegiatan menunggu waktu berbuka). Disamping memang ada keperluan untuk membeli titipan ibu ke toko manisan, mereka sengaja berjalan-jalan menghabiskan waktu.

Ketika mereka melewati penjual siomay, si adik minta dibelikan untuk dimakan ketika berbuka.

“Loh kan tadi ibu sama mbak udah bikin sop buah dirumah dek?” Tya mencoba mengingatkan adiknya

“Tidak apa-apa, nanti adek makannya setelah makan sop buah”dalih si adik

Tya pun membelikannya walaupun agak tidak yakin bahwa adiknya akan memakannya.

Lalu mereka mampir di sebuah toko manisan, karena Tya hendak membelikan titipan ibu. Sang adik pun tertarik hendak membeli beberapa ciki dan minum-minuman yang terlihat menggoda di kulkas toko tersebut.

“Buat adek buka nanti mbak,” katanya

Tya pun kembali memenuhi permintaannya. Lalu ketika mereka hendak pulang, mereka melewati penjual es rumput laut yang ramai dikerumuni pembeli. Kali ini si adik tidak minta dibelikan, dia hanya bergumam kecil,

“Hhmm.. enak kali ya mbak buka puasa pake es rumput laut..”

Tya tersenyum geli dan segera memahaminya. Tya berbisik lembut kepadanya,

“Kalau mbak beliin, yakin adek mau minumnya? Kan tadi udah beli siomay, ciki dan minum-minuman itu?”

Si adik pun berpikir lalu memutuskan untuk tidak ingin membeli es tersebut.

Selama berjalan-jalan sore ini, sang adik telah membeli beberapa jajanan yang dilihatnya menarik dan ia merencanakan untuk memakannya saat berbuka.

Akhirnya adzan maghrib pun berkumandang, tibalah saatnya berbuka. Si adik pun mengeluarkan semua makanan yang “disimpan untuk buka” dengan suka cita.

Begitulah anak-anak, ia belum mampu mengendalikan nafsunya terhadap sesuatu dengan baik, namun karena ia berpuasa, ia belajar menangguhkan nafsu tersebut hingga pada saat yang tepat. Seperti hal nya terhadap makanan, ketika ia melihat makanan yang disukainya di siang hari disaat ia berpuasa, ditambah dorongan rasa lapar yang mendera, membuat ia tak mampu berpaling dari daya tarik makanan tersebut.

Namun ia tahu bahwa akan ada waktu berbuka dimana ia boleh menikmati makanan tersebut dengan leluasa, maka ia akan menggantungkan segala hasratnya pada waktu berbuka itu. Tidak ada pilihan lain baginya selain harus bersabar menanti hingga batas waktu berbuka. Sungguh, Puasa telah mengajarinya mengangguhkan nafsu, bersabar, dan tahu saat yang tepat.

Ketika waktu berbuka telah tiba, apa yang terjadi?

Sang adik tidak memakan semua makanannya kecuali sedikit saja. Ia kebingungan bagaimana memakan semuanya sementara kapasitas lambungnya sangat terbatas. Saat lambungnya terasa penuh, semua makanan yang menggodanya siang tadi pun seketika menjadi tak menarik lagi.

Bagitulah anak-anak, penting peranan orang tua yang bijak disekiling mereka untuk membantunya memilah hikmah dan pelajaran dari apa yang mereka alami. Ada baiknya jika mereka diberi pertanyaan refleksi sebelum memutuskan membeli makanan yang mereka inginkan, apakah kira-kira mampu menghabiskan makanan tersebut ataukah tidak. Dengan begitu mereka akan berefleksi dan belajar mengenal kapasitas diri mereka sendiri sebelum memutuskan membeli atahu menyimpan makanan untuk berbuka disaat mereka berpuasa.

“Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A’raaf [7] : 31)

Subhanallah, ternyata banyak sekali hikmah dan pelajaran tersembunyi dibalik ajaran Islam untuk berpuasa, sebagian telah kita sadari dan sebagian masih menjadi rahasia yang mungkin jumlahnya tak terhingga.

Wallahu a’lam bishshowab

Read More...

Sunday, August 7, 2011

Kematian Adalah Pasti

Oleh bidadari_Azzam

Dia telah mengingatkan kita dalam kitab-Nya yang sempurna bahwa tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, bila ayat tersebut terdengar di telinga atau dibaca oleh lidah kita sendiri, hati nan tunduk pada-Nya pasti merasa bergetar hebat.

Ramadhan awal tahun ini diiringi berita indah akan kelahiran bayi-bayi lucu para sahabatku. Semoga keberkahan Allah ta’ala mengiringi para bayi suci tersebut, amiin.

Dan hentakan di dada begitu kerasnya tatkala kubaca berita tentang kematian seorang teman, sangat muda usianya, beserta meninggalnya dua orang bapak yang merupakan orang tua dari sahabat nun jauh di negera lain. Padahal, kontak dengan teman itu hanya via email karena satu komunitas wanita Indonesia di luar negeri, dan bapak-bapak yang telah pergi jauh ke alam lain tersebut memang belum pernah bertatap muka langsung denganku, paling-paling anaknya menunjukkan “Ini fotoku bersama ayah…”, sebatas itu.

Namun tatkala kematian, berita bahwa mereka sudah ‘duluan singgah’ ke alam barzah, sontak mendebarkan dan membuat air mataku bercucuran, Innalillahi wa inna ‘ilaihi roji’uun… Sangat mungkin hal ini disebabkan hamba yang penuh dosa ini sudah menyadari akan ‘antrian panjang’ yang makin dekat.

Ketika ‘stress’ melanda jiwa Peter, sebut saja begitu, selalu dia bilang, “Papaku meninggal tiba-tiba… Aku tidak tau harus ngapain di dunia ini…”, gara-gara Peter memang cuma tinggal berduaan dengan papanya seusai nenek mendahului mereka. Papanya yang (dikira) selalu sehat, mendadak memperoleh serangan semacam sempitnya pembuluh darah dan jalan edar saluran pernafasan, hanya lima menit peristiwa terjadi usai meeting dengan relasi bisnisnya.

Peter bahkan sedang bertugas di tempat lain ketika papanya menghembuskan nafas terakhir. Dan sang papa meninggalkan seabrek-abrek urusan perusahaannya yang mana hanya beliau saja yang tau seluk beluk bisnis tersebut, begitu beratnya hari-hari dirasakan Peter, sampai suasana berkabungnya memakan waktu dua tahun lebih.

Lain lagi seorang sohib masa kecilku, ia berucap, “Sejak kepergian mamaku itu, aku menyadari bahwa kematian bisa saja terjadi mendadak, bayangkan, mama dan aku sedang nonton televisi bareng-bareng. Lalu ketika aku ke dapur untuk minum air putih, sekembalinya ke ruang televisi, mamaku sudah tergeletak, tak ada nafasnya dan aku berteriak-teriak sampai tetangga menelepon pihak rumah sakit. Ternyata mamaku meninggal ketika detik itu aku sedang minum di dapur….”, sohibku ini sempat bertahun-tahun lamanya menjadi amat pendiam setelah peristiwa itu.

Hanya Allah SWT yang memiliki kuasa penuh untuk memberikan nafas bagi kehidupan (kejadian pertama kali kita menghirup udara di dunia, siapakah yang bisa mengira-ngira tanggal-jam-menit dan detiknya, kecuali Allah?) atau untuk mengambilnya kembali (siapakah yang dapat menduga tanggal-menit-detiknya kita ‘kehabisan stok rezeki nafas’ alias tutup usia, kecuali hanya Allah ta’ala?).

Peter yang nonmuslim memang benar-benar tidak tahu akan kepastian hari kiamat, akan yaumil hisab kelak. Selama ini, entahlah kenapa ia tidak pernah terpikir bahwa si papa akan meninggal dunia. Setidaknya mungkin ia pikir, meninggalnya masih lama, ‘nunggu punya cucu dan cicit’, setelah pensiun, atau nungguin Peter menikah. Sampai-sampai jenazah si papa diletakkan di rumah selama seminggu lebih sebelum dimakamkan. Sangat berbeda dengan sahabatku Zaynab, ketika papanya meninggal di tanah sunda sedangkan Zaynab tengah melanjutkan kuliah di eropa, ia begitu tabah dan ikhlas. Ia beritahu hal itu kepada teman-temannya agar teman-teman turut mendo’akan keluarganya. Zaynab berurai air mata dalam sujud kepada-Nya, sangat manusiawi, ia bersedih, namun ikhlas menerima ketetapan-Nya. Papanya sesegera mungkin dimakamkan pada hari itu juga.

Sebagaimana kelahiran, keluar dari jalan lahir rahim suci, sendirian, maka kematian pun ‘terbang’ sendirian, tidak bisa ditemani harta benda yang kita kumpulkan bersusah payah, tak dapat ditemani anak, istri, ayah, bunda, sahabat, dan sebagainya, melainkan hanya berteman amalan-amalan selama di dunia.

Yah, kematian kita semua adalah hal yang pasti, ketetapan-Nya yang tidak bisa diganggu gugat, berita tentang sakaratul maut merupakan berita lama, bukan dadakan atau tiba-tiba. Namun peristiwa yang mendahului hal itu, detik dan menitnya serta tempat terjadinya perkara alias TKP merupakan misteri-Nya yang memang terjadi tanpa disangka-sangka, sungguh betapa kecil dan lemahnya kita di hadapan Allah ta’ala, setiap hari harus melalui beragam peristiwa skenario-Nya yang makin misterius. Ketika ‘panggilan’ ke haribaan-Nya datang, entah tatkala sedang tidur, sedang makan, sedang dalam perjalanan, ataukah sedang sholat, sedang olahraga, sedang duduk santai, sedang bermain di pantai, sedang menelepon, memasak, dan lain sebagainya, detik dipanggil-Nya langsung membuat sang malaikat petugas pencabut nyawa melaksanakan tugas.

Allah mengingatkan kita dalam ayat-Nya, “Katakanlah : ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.“ (QS. Al-Jumu’ah [62]: 8)
Tidak bisa ‘ngumpet’ dimana-mana, duhai Ilahi, hikmah atas kematian merupakan pelajaran terdahsyat. Bagaimana bisa masih ada yang tidak takut bermaksiat dan menyekutukan-Mu, masih ada yang merasa ‘hebat dan jagoan’ bisa lari ke benua-benua lain jikalau kejahatannya diketahui manusia sekitar, masih ada yang bisa berbohong atau berpura-pura sakit bahkan pura-pura hampir mati tatkala diberi surat panggilan pemeriksaan atas skandal korupsi? Masih ada ribuan pejabat dunia yang merasa sok paling kaya gara-gara ‘duitnya aman’ di bank-bank Swiss, padahal duit itu tidak bisa dipakai buat menyogok malaikat maut?! Naudzubillahi minzaliik.

Ya Allah berikan kami bimbingan setiap saat, Ya Allah, semoga kami berada dalam cahaya Islam ketika hari ‘H’ itu datang, dalam detik-detik taubatan nasuha, dalam kondisi terbaik penutup usia, amiin. Yaa Allah biha Yaa Allah biha Yaa Allah Bi khusnil khotimah, Allahumma amiin.


(bidadari_Azzam, Krakow, 5 Ramadhan 1432 Hijriyah)

Read More...

Saturday, July 30, 2011

Konvoi Lembaga Dakwah Kampus SeUnsyiah Dan KAPMI Banda Aceh

Ahlan wa sahlan ya ramadhan,Marhaban ya ramadhan, begitulah seruan yang diucapkankan seluruh peserta konvoi yang berasal dari seluruh Lembaga Dakwah yang ada di unsyiah serta dari KAPMI yang dimotori oleh Fosma unsyiah. Kegiatan ini adalah salah satu dari agenda Garda Fosma Unsyiah.

Rabu pagi 27/7, semua kader dan simpatisan dari seluruh fakultas mendapat sebaran SMS dari panitia Garda untuk mengikuti acara konvoi. Semua kader dan simpatisan di himbau untuk ikut meramaikan acara penyambutan datangnya bulan suci ramadhan. karena barang siapa menyambut gembira akan datangnya bulan suci ramadhan diharamkan api neraka untuk menyentuh tubuhnya.

Kamis sore 28/7, langit Banda Aceh nampak cerah seperti biasa, hangat sinar matahari senang tiasa menghangatkan bumi. Usai solat asyar dilaksanakan, semua kader dan simpatisan berkumpul di pelataran masjid jamik kampus untuk mengadakan persiapan. Semuanya mengenakan pakaian putih dan semua mengatur barisan dengan tertib.

Rute yang di ambil adalah dari Masjid jamik kampus peserta konvoi bergerak mengelilingi area kampus mulai dari Gelanggang, Kelautan, Mipa, Teknik, Fisipol, Kedokteran, Pertanian, Kedokteran Hewan, FKIP, dan Ekonomi. Kemudian dilanjutkan dengan menyusuri jalan besar menuju ke pusat kota yaitu Simpang Lima.

Tiba di Simpang Lima, para para peserta konvoi memarkir kendaraan mereka dengan tertib, kemudiam mereka berjalan menyebrang menuju bundaran Simpang Lima. Acara pembukaan diawali dengan pembacaan Al-Qur’an oleh akhi Agam. Selanjutnya acara di kendalikan koordinator lapangan. Acara Orasi pun dimulai yang diawali dari perwakilan An-Nahl, Al-Muddaris, dan Ulul Albab yang diwakili oleh amirnya akhi Samsul, serta di susul yang lainnya dan akhirnya orasi ditutup oleh orasinya bang Muharida Ketua Fosma periode sebelumnya. Dari semua orasi yang disampaikan intinya adalah mengajak seluruh masyarakat Banda Aceh pada kususnya dan masyarakat seluruh Aceh pada umumnya untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menyambut datangnya bulan suci ramadhan. juga menghimbau kepada semua masyarakat untuk lebih peduli dalam masalah syariat yang kian lama kian terpuruk. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di beberapa tempat di Banda Aceh menjadi lokasi dimana kemaksiatan dilaksanakan seperti muda-mudi yang bukan muhrim berdua-duaan pada malam hari, penjualan minuman keras, prostitusi dan lain sebagainya.

Dengan datangnya bulan ramadhan ini kami barharap pemerintah kota Banda Aceh lebih aktif memberantas kegiatan seperti diatas dengan menggerakkan wilayatul hisbah (WH), kita tunjukan bahwa Waliyatul Hisbah Banda Aceh masih mempunyai marwah(harga diri) yang wajib di hormati oleh masyarakat dan di takuti oleh pembuat maksiat. Jika Banda Aceh yang dikatakan sebagai daerah yang menerapkan sariat islam pada bulan ramadhan mesih terdapat banyak maksiat di dalamnya, aka kata dunia????? Bukankah hanya malu yang kita dapat.

Oleh karenanya pada bulan ramadhan yang akan datang ini kita sucikan niat,hati dengan banyak berzikir, pikiran dengan banyak membaca buku-buku islam, harta dengan membayar zakatnya, serta kota kita dari hal yang dapat mendatangkan laknat Allah.

Bertebaranlah di muka bumi wahai mujahidin, Allah selalu bersamamu.

By: Eko bp

Read More...

Thursday, July 28, 2011

TARHIB RAMADHAN BERSAMA LDF ULUL ALBAB

sebagai seorang muslim, datangnya bulan suci ramadhan ada suatu anugrah yang sangat besar dari Allah SWT. Karena pada bulan ramadhan segala amal kebaikan dilipat gandakan pahalanya, pintu-pintu surga di buka, dan sebaliknya semua pintu neraka ditutup dengan rapat. Rasulullah SAW, sahabat, dan generasi saleh terdahulu. Seperti disebutkan dalam riwayat yang berasal dari Anas ra. bahwa ketika memasuki bulan Rajab, Rasulullah saw berdoa, "Ya Allah berkahi kami pada bulan Rajab dan Sya'ban ini. Serta sampaikan kami ke dalam bulan Ramadhan." (HR al-Tirmidzi dan al-Darimi).

Bahkan, Ma'la bin Fadhal berkata, "Dulu sahabat Rasul SAW berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian, selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu." Jika demikian sudah semestinya kita juga mempersiapkan diri sebaik mungkin menyambut Ramadhan. Begitu besar perhatian rasul dan sahabat dalam menyambu bulan suci ramadhan.

Dan dalam rangka menyambut bulan Suci Ramadhan 1432 H ini, LDF Ulul Albab Fakultas MIPA Unsyiah menyelenggarakan kegiatan Tarhib Ramadhan Pada selasa, 26 Juli 2011. Acara yang dilaksanakan di Mushalla KID ini mengangkat tema sacara umum, yaitu “Sambut Ramadhan dengan Penuh Cinta”. Acara ikuti oleh sebanyak 30 mahasiswa, 25 akhwat dan 5 ikhwan. Pada tarhib kali ini, LDF Ulul Albab menghadirkan seorang ustadz bernama Muhammad Rum, Lc.

Acara di buka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Eko Budi Purwanto, yang dipandu oleh moderator, Samsul. Saat mengisi acara Tarhib, mampaknya pemateri cukup tertarik dengan kata “Cinta” yang merupakan bagian dari tema kali ini. Sebelum memberikan uraian tentang Ramadhan, ustadz M. Rum banyak memaparkan tentang kisah-kisah cinta yang sangat termasyur, seperti kisah cinta Laila-Majnun, Yusuf-Zulaikha, serta kisah tentang betapa hebatnya rasa cinta istri-istri dan sahabat Rasulullah terhadap Nabi kita, Muhammad saw.

Pemateri menjelaskan bahwa cinta yang diharapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dari kita sebagai umat adalah cinta yang buta. Cinta yang melebihi dahsyatnya kisah-kisah cinta yang disebutkan diatas. Cinta yang membuat kita selalu yakin akan Allah swt dan kebenaran ajaran Rasulullah saw, walaupun secara langsung kita belum pernah bertemu dengan Allah swt dan Rasul-Nya. Saat ditanya oleh peserta tentang bagaimana cara agar kita mencintai Allah swt dan Rasulullah saw, ustadz menjawab bahwa tidak mungkin seseorang mencintai sesuatu, apapun itu sebelum mereka mengenal objeknya. Kenalilah Allah swt dan Rasul-Nya secara mendalam melalui pembelajaran, seperti baca buku, pengajian dan bertanya pada yang ahli sehingga kita mendapatkan suatu kenyataan betapa hebatnya Allah swt dan Muhammad saw. Karena sesungguhnya, kecintaan para istri dan sahabat terhadap Allah swt dan Rasulullah saw berawal dari pemahaman mereka terhadap kebaradaan Sang Pencipta dan Utusan-Nya.

Memasuki materi tentang Ramadhan, pemateri memberikan pemahaman bahwa setiap hari di Bulan Ramadhan merupakan hari yang istimewa, hari dimana dilipatgandakan pahala segala amalan kebaikan. Jadi, merupakan suatu kesalahpahaman jika kita menganggap bahwa 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari ketiga mempunyai kadar keistimewaan yang berbeda. Kadar keistimewaan yang berbeda itu hanya ada di malam Lailatul Qadar.

“Latihan untuk mencintai Ramadhan bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam sehari”, begitu kata ustadz M. Rum menjelang akhir pemaparannya. Di masa Rasulullah, persiapan Ramadan dilakukan setengah tahun sebelum Ramadhan. Saat seorang atlet renang ingin berenang, mereka melakukan pemanasan diluar kolam berupa gerakan-gerakan yang akan dilakukan saat berenang. Jadi jika kita ingin melakukan pemanasan menghadapi Ramadhan, maka lakukanlah diluar Ramadhan dengan bentuk kegiatan yang akan kita lakukan di Ramadhan. Seperti puasa sunat dan shalat malam.

Di akhir acara, ustadz juga membacakan dua pertanyaan yang berhak dijawab oleh peserta untuk mendapatkan doorprise. Akhir pemaparan tentang materi ditutup dengan do’a yang dibacakan langsung oleh ustadz M. Rum, Lc.

Oleh : Rina Novia(syiar)

Read More...

Wednesday, July 27, 2011

Lima Hak Al-Qur'an

“Ki, bukankah Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi kita ki?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, bahkan dengan tegas Al-Qur’an menyatakan bahwa ‘tidak ada keraguan di dalamnya’ sebagai petunjuk orang-orang mutaqin.” Jawab Ki Bijak, sambil mengutip ayat Al-Qur’an.

"Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa."(QS. Al-Baqarah [2] : 2)

“Lalu kenapa masih banyak orang yang membaca Al-Qur’an, tapi masih banyak di antara kita yang masih kelimpungan mencari petunjuk lain selain Al-Qur’an, apanya yang salah ki?” Tanya Maula.

“Tidak ada yang salah bagi kita yang rajin dan pandai membaca Al-Qur’an, dan jika kita belum menemukan Al-Qur’an sebagai petunjuk, itu karena kita belum menunaikan hak-hak Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.

“Hak-hak Al-Qur’an ki?” Tanya Maula

“Benar Nak Mas, kadang kita terlalu sibuk menuntut Al-Qur’an sebagai ini dan itu, sementara hak-nya tidak pernah kita hiraukan.”

“Al-Qur’an juga mempunyai hak atas kita, yang jika hak-hak Al-Qur’an itu kita tunaikan, insya Allah, kita akan benar-benar mendapati Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kita, bahkan lebih dari itu, Al-Qur’an akan menjadi rahmat dan pemberi syafaat bagi kita di yaumil akhir nanti.” Sambung Ki Bijak.

“Apa saja hak-hak Al-Qur’an atas kita ki?” Tanya Maula.

“Setidaknya ada lima hak Al-Qur’an yang harus kita tunaikan, yang pertama, hak Al-Qur’an atas kita adalah dibaca sesuai dengan ketentuan tajwid dan mahroj-nya.” Kata Ki Bijak.

“Alhamdulillah, kalau sekarang ini banyak metode pembelajaran Al qu’ran yang bagus, yang bisa dengan cepat mengajar kita untuk bisa baca Al-Qur’an, hanya kadang sebagian kita kurang terlalu peduli dengan kaidah-kaidah baca Al-Qur’an yang benar, sehingga keagungan bacaan Al-Qur’an sebagai kalam ilahi, menjadi kurang tampak, dan bahkan bagi sebagian orang, membaca Al-Qur’an tidak lebih penting dari membaca koran, ini yang harus kita perbaiki, sebagai salah satu langkah kita untuk memenuhi hak Al-Qur’an atas kita, baca Al-Qur’an sesuai dengan ketentuan dan kaidahnya.” Kata Ki Bijak.

“Lalu hak Al-Qur’an yang kedua atas kita apa ki?” Tanya Maula.

“Setelah kita bisa membaca Al-Qur’an, maka akan timbul hak Al-Qur’an yang kedua, yaitu memahami artinya, baik arti secara harfiah, maupun arti maknawi (tafsir)-nya.” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat, apa saja yang terkandung dalam Al-Qur’an?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki, secara garis besar, Al-Qur’an mengandung pelajaran ketauhidan, kisah-kisah bangsa terdahulu serta hukum-hukum atau syari’at.” Jawab Maula,

“Karenanya, kita harus benar-benar memahami apa arti bacaan Al-Qur’an, agar kita bisa melaksanakan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an serta menjauhi apa yang dilarang Allah seperti tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an,”

“Atau bagaimana mungkin kita bisa menjadikan kisah-kisah bangsa terdahulu yang diterangkan Al-Qur’an sementara kita tidak mengetahui apa yang dikatakan Al-Qur’an? untuk itulah kewajiban kita terhadap Al-Qur’an adalah mengerti dan memahami arti dan maknanya.” Kata Ki Bijak.

Maula manggut-manggut mendengar penjelasan gurunya, “Yang ketiga ki?” Tanyanya kemudian.

“Hak Al-Qur’an yang ketiga adalah dihapal.” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat dengan hadits yang menunjukan keistimewaan orang yang hapal Al-Qur’an?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki, dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata, ‘Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hapalan Al-Quran mereka. Setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hapalan Al-Qur’an-nya’,”

“Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah SAW, ‘Berapa banyak Al-Qur’an yang telah engkau hapal, hai fulan?’ ia menjawab, ‘aku telah hapal surah ini dan surah ini, serta surah Al-Baqarah.’ Rasulullah SAW kembali bertanya, ‘Apakah engkau hapal surah Al-Baqarah?’ Ia menjawab, ‘Betul.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!’.” Kata Maula mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmizi.

“Benar Nak Mas, itu salah satunya, dan masih banyak lagi hadits yang menyatakan betapa orang yang di dalam dadanya hapal Al-Qur’an, mendapat kehormatan di sisi Allah dan Rasul-Nya, seperti sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Penghapal Al-Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al-Quran akan berkata, “Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia,” kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al-Quran kembali meminta, “Wahai Tuhanku tambahkanlah,” maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al-Quran memohon lagi, “Wahai Tuhanku, ridhailah dia,” maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, “bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga),” dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nimat dan kebaikan’.” Kata Ki Bijak.

“Selanjutnya, Al-Qur’an mempunyai hak atas kita untuk diamalkan, bacaan yang bagus, pemahaman arti yang baik, dan hapalan yang banyak, tidak boleh lantas menjadikan kita bangga diri, karena bacaan, arti dan hapalan yang tidak disertai dengan pengamalan yang baik dan benar, laksana pohon rindang tanpa buah, tak banyak memberikan manfaat pada orang yang memilikinya.” Kata Ki Bijak.

“Bahkan menurut hemat Aki, pengamalan nilai-nilai yang terkadung dalam Al-Qur’an merupakan hal terpenting dalam upaya kita memenuhi hak-hak Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, kalau ada orang yang sudah mengamalkan Al-Qur’an, tapi tidak bisa membaca Al-Qur’an bagaimana ki?” Tanya Maula.

“Benar, ada orang yang sudah mengamalkan Al-Qur’an meski ia tidak bisa membacanya, tapi itu sama sekali tidak berarti menggugurkan kewajibannya untuk belajar membaca Al-Qur’an, belajar memahami artinya, belajar menghapalnya, karena kewajiban tetaplah kewajiban, yang harus ditunaikan, dan insya Allah, mereka yang sudah melaksanakan hukum-hukum Al-Qur’an sebelum bisa membacanya, akan menjadi lebih baik lagi pengamalan Al-Qur’anya kalau ditambah dengan membaca, mengerti dan menghapal Al-Qur’an dengan baik.” kata Ki Bijak.

“Selanjutnya, mengajarkan Al-Qur’an juga merupakan sebuah kewajiban kita terhadap Al-Qur’an yang harus kita laksanakan, ajarkan apa yang kita mampu, walaupun hanya satu ayat.” Kata Ki Bijak.

“Buah yang matang dan ranum, tidak akan dapat dirasakan manis dan nikmatnya jika hanya dibiarkan menggantung diketinggian pohonnya, untuk itu, buah itu harus kita petik dan kita sampaikan, agar orang lain bisa menikmati manis dan lezatnya buah yang kita hasilkan.” Kata Ki Bijak.

“Ki, setelah mendengar penjelasan Aki tadi, ana merasa, ana masih punya banyak ‘hutang’ terhadap Al-Qur’an ki, bacaan Al-Qur’an ana masih banyak kurangnya, pemahaman ana terhadap Al-Qur’anpun masih sedemikian dangkal, apalagi menghapal dan mengamalkannya, ana merasa masih sangat-sangat jauh ki.” Kata Maula.

“Aki-pun demikian Nak Mas, masih banyak hak-hak Al-Qur’an yang belum bisa Aki penuhi seluruhnya, tapi setidaknya mulai sekarang, marilah kita kembali buka dan pelajari lagi Al-Qur’an, agar kita tidak termasuk orang yang dianggap lalai dalam memenuhi kewajiban kita terhadap Al-Qur’an.” kata Ki Bijak merendah.

“Ki, adakah kiat yang bisa ana pakai untuk bisa belajar Al-Qur’an dengan benar ki.” Tanya Maula.

“Setiap orang, memiliki cara dan kekhususan tersendiri dalam mempelajari Al-Qur’an, setiap orang mungkin berbeda cara belajarnya, namun setidaknya kita harus memiliki beberapa hal mendasar sebagai modal kita untuk belajar Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.

“Apa saja modal dasar itu, ki?” Tanya Maula.

“Pertama, Niat dan komitmen yang kuat, niatkan belajar kita lillahi ta’ala, hanya semata karena mengharap ridha-Nya, kemudian, tanamkan dalam diri kita sebuah komitmen yang tinggi untuk benar-benar belajar dan mempelajari Al-Qur’an.”

“Kedua, tanamkan selalu sifat rendah hati, sifat tawadlu, agar kita tidak cepat merasa bosan atau cepat merasa puas dengan apa yang telah kita pelajari.”

“Ketiga, belajarlah terus menerus dengan penuh kesungguhan.”

“Keempat, amalkan apa yang sudah kita pelajari, misalkan kita sudah belajar baca bismillah, pahami apa arti dan makna yang terkandung didalamnya, kemudian amalkan dalam keseharian kita, bahwa tidak ada satupun aktivitas kita yang lepas dari memohon pertologan kepada Allah, yaitu dengan membaca Bismilllah.”

“Selanjutnya, untuk membantu proses belajar kita, ajarkan apa yang sudah kita pahami, proses ini akan membantu ingatan kita terhadap apa yang telah kita dapat, dengan mengajarkan, secara otomatis kita selalu mengulang-ulang pelajaran yang sama, sehingga tingkat pemahaman dan belajar kita insya Allah menjadi lebih baik.”

“Kemudian, kalau lima proses diatas sudah kita lakukan dengan benar, maka kita akan memiliki karakter.” kata Ki Bijak

“Apa cirinya kita sudah memiliki karakter ki?” Tanya Maula

“Cirinya, kita akan merasa rugi kalau sehari saja kita tidak baca Al-Qur’an,kita akan merasa kehilangan, kalau sehari saja kita tidak buka Al-Qur’an, atau kita akan merasa bersedih karena kehilangan momentun belajar Al-Qur’an, setiap hari, setiap saat dan setiap detik, orang yang memiliki karakter ini akan menunjukan semangat dan keinginan yang kuat untuk belajar Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.

“Alangkah bahagianya mereka yang sudah memiliki karakter seperti itu ya ki.” Kata Maula.

“Ya, berbahagialah orang yang memiliki karakter positif seperti itu, sebaliknya kita mesti berhati-hati kalau justru karakter negatif secara tidak sengaja menempel pada diri kita.” Kata Ki Bijak.

“Contohnya apa ki?” Tanya Maula.

“Menunda waktu shalat, kadang juga merupakan menjadi ciri atau karakter seseorang, sehingga kalau ia shalat tepat waktu, malah merasa rugi dan terganggu.”

“Kemudian lagi kebiasaan mencela, juga bisa jadi karakter seseorang, sehingga kalau belum mencela, rasanya gatal, dan lain sebagainya.” Kata Ki Bijak memperingatkan Maula untuk berhati-hati.

“Ya ki, semoga ana bisa memiliki karakter positif dan semoga pula ana terhindar dari karakter negatif tadi ya ki.” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas.” Kata Ki Bijak.

Wassalam.

Abu Maulana

Read More...

Tuesday, August 24, 2010

Kisah Sa’id bin Harits Berbuka Puasa Bersama Bidadari

dakwatuna.com - Hisyam bin Yahya al-Kinaniy berkata, “Kami berperang melawan bangsa Romawi pada tahun 38 H yang dipimpin oleh Maslamah bin Abdul Malik. Dalam pertempuran itu ada di antara kami seorang lelaki yang bernama Sa’id bin Harits yang terkenal banyak beribadah, berpuasa di siang hari, dan shalat di malam hari.Saya melihat orang itu adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, baik siang maupun malam hari. Jika dia tidak sedang melakukan shalat atau ketika kami berjalan-jalan bersama, saya lihat dia tidak pernah lepas dari berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.Pada suatu malam ketika kami melakukan pergantian jaga (saat mengepung benteng Romawi), sungguh saat itu kami dibuat bingung olehnya. Saat itu saya katakan kepadanya, ‘Tidurlah sebentar karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi pada musuh. Jika terjadi sesuatu agar nantinya kamu dalam keadaan siaga.’Lalu dia tidur di sebelah tenda sedangkan saya berdiri di tempatku berjaga. Di saat itu saya mendengar Said berbicara dan tertawa, lalu mengulurkan tangan kanannya seolah-olah mengambil sesuatu kemudian mengembalikan tangannya sambil tertawa. Kemudian ia berkata, ‘Semalam.’ Setelah berkata seperti itu tiba-tiba ia melompat dari tidurnya dan terbangun dan bergegaslah dia bertahlil, bertakbir, dan bertahmid.Lalu saya bertanya kepadanya, ‘Bagus sekali, wahai Abul Walid (panggilan Sa’id), sungguh saya telah melihat keanehan pada malam ini. Ceritakanlah apa yang kau lihat dalam tidurmu.’Dia berkata, ‘Aku melihat ada dua orang yang belum pernah aku lihat kesempurnaan sebelumnya pada selain diri mereka berdua. Mereka berkata kepadaku, ‘Wahai Sa’id, berbahagialah, sesungguhnya Allah swt. telah mengampuni dosa-dosamu, memberkati usahamu, menerima amalmu, dan mengabulkan doamu. Pergilah bersama kami agar kami menunjukkan kepadamu kenikmatan-kenikmatan apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.’Tak henti-hentinya Sa’id menceritakan apa-apa yang dilihatnya, mulai dari istana-istana, para bidadari, hingga tempat tidur yang di atasnya ada seorang bidadari yang tubuhnya bagaikan mutiara yang tersimpan di dalamnya. Bidadari itu berkata kepadanya, “Sudah lama kami menunggu kehadiranmu.” Lalu aku berkata kepadanya, “Di mana aku?” Dia menjawab, “Di surga Ma’wa.” Aku bertanya lagi, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah istrimu untuk selamanya.”Sa’id melanjutkan ceritanya. “Kemudian aku ulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Akan tetapi dia menolak dengan lembut sambil berkata, ‘Untuk saat ini jangan dulu, karena engkau akan kembali ke dunia.’ Aku berkata kepadanya, “Aku tidak mau kembali.” Lalu dia berkata, “Hal itu adalah keharusan, kamu akan tinggal di sana selama tiga hari, lalu kamu akan berbuka puasa bersama kami pada malam ketiga, insya Allah.”Lalu aku berkata, “Semalam, semalam.” Dia menjawab, “Hal itu adalah sebuah kepastian.” Kemudian aku bangkit dari hadapannya, dan aku melompat karena dia berdiri, dan saya terbangun.Hisyam berkata, “Bersyukurlah kepada Allah, wahai saudaraku, karena Dia telah memperlihatkan pahala dari amalmu.” Lalu dia berkata, “Apakah ada orang lain yang bermimpi seperti mimpiku itu?” Saya menjawab, “Tidak ada.” Dia berakta, “Dengan nama Allah, aku meminta kepadamu untuk merahasiakan hal ini selama aku masih hidup.” Saya katakan kepadanya, “Baiklah.”Lalu Sa’id keluar di siang hari untuk berperang sambil berpuasa, dan di malam hari ia melakukan shalat malam sambil menangis. Sampai tiba saatnya, dan sampailah malam ketiga. Dia masih saja berperang melawan musuh, dia membabat musuh-musuhnya tanpa sekalipun terluka. Sedangkan saya mengawasinya dari kejauhan karena saya tidak mampu mendekatinya. Sampai pada saat matahari menjelang terbenam, seorang lelaki melemparkan panahnya dari atas benteng dan tepat mengenai tenggorokannya. Kemudian dia jatuh tersungkur, lalu dengan segera aku mendekati dia dan berkata kepadanya, “Selamat atas buka malammu, seandainya aku bisa bersamamu, seandainya….”Lalu ia menggigit bibir bawahnya sambil memberi isyarat kepadaku dengan tersenyum. Seolah-olah dia berharap ‘Rahasiakanlah ceritaku itu hingga aku meninggal’. Kemudian dari bibirnya keluar kata-kata, “Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya kepada kami.” Maka demi Allah, dia tidak berucap kata-kata selain itu sampai dia meninggal.Kemudian saya berteriak dengan suaraku yang paling keras, “Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian semua melakukan amalan untuk hal seperti ini,” dan aku ceritakan tentang kejadian tersebut. Dan orang-orang membicarakan tentang kisah itu dan mereka satu sama lain saling memberikan teguran dan nasihat. Lalu pada pagi harinya mereka bergegas menuju benteng dengan niat yang tulus dan dengan hati yang penuh kerinduan kepada Allah swt. Dan sebelum berlalunya waktu Dhuha benteng sudah bisa dikuasai berkat seorang lelaki shaleh itu, yaitu Sa’id bin Harits. Allahu a’lam
Read More...

Cepretan

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template